BYD F1 masuk dalam radar produsen mobil listrik terbesar di dunia. Mohammed Ben Sulayem sudah memberikan persetujuan. Temukan latar belakangnya.
Revolusi diam-diam terbesar dalam sejarah Formula 1 mungkin tidak datang dari montir Inggris atau jutawan Amerika. Itu datang dari Shenzhen, menggunakan baterai solid-state dan sudah menguasai pasar yang bahkan Eropa tidak lihat lima tahun lalu. BYD, raksasa Cina yang menjual lebih banyak mobil listrik daripada perusahaan lain di dunia, sedang menargetkan kategori tertinggi balap mobil — dan apa yang tampak gila ini mungkin hanyalah bab berikutnya dari cerita dominasi teknologi.
Harga Kemuliaan: Mengapa US$ 500 Juta Mungkin Bukan Hambatan Terbesar
Masuk ke F1 itu mahal. Sangat mahal. Diperkirakan satu musim penuh membutuhkan investasi sekitar US$ 500 juta — dan itu sebelum meraih poin apapun. Tapi bagi BYD, yang meraih lebih dari US$ 100 miliar pada 2024, tantangan finansial bukan yang utama. Masalah sebenarnya adalah perlawanan institusional.
Tim-tim yang sudah mapan — Ferrari, Mercedes, Red Bull, McLaren — memiliki alasan jelas untuk menghalangi pendatang baru. Setiap masuk baru mengurangi kue hadiah dan bisa menurunkan valuasi milyaran yang dibangun selama puluhan tahun. Strategi paling umum adalah akuisisi, tapi tim F1 jarang dijual. Jika dijual, harganya sangat mahal.
Alternatifnya? Membangun dari nol. Dan di sinilah BYD mungkin memiliki keuntungan tak terduga. Sementara pembuat mobil tradisional berjuang beralih ke elektrifikasi, perusahaan Cina ini sudah lahir di dunia itu. Para insinyurnya tidak perlu belajar menangani baterai berkapasitas tinggi — mereka menemukannya.
Ujian Nyata yang Sudah Terjadi di Nürburgring
Pada September 2025, Yangwang U9 Xtreme melakukan sesuatu yang belum pernah dicapai oleh kendaraan listrik produksi sebelumnya: menembus batas 7 menit di Nürburgring Nordschleife. Waktu 6:59,157 bukan hanya angka. Itu adalah pernyataan niat.
Data teknis prototipe ini sungguh menakjubkan:
- Daya gabungan: Lebih dari 3.000 HP (sekitar 2.240 kW)
- Penggerak: Empat motor listrik independen
- Kecepatan maksimum: 472,41 km/jam (rekor Agustus 2025)
- Arsitektur: Kontrol torsi vektorial di setiap roda
Ini bukan mobil jalanan yang disamarkan. Ini adalah laboratorium teknologi balap dengan plat nomor. Dan untuk tahun 2026, F1 mengadopsi aturan hibrida yang meningkatkan kapasitas baterai — sebuah wilayah di mana BYD sangat berkompeten.
Sekutu Tak Terduga di FIA dan Pasar yang Sebenarnya Penting
Mohammed Ben Sulayem, presiden FIA, mengungkapkan posisinya dalam wawancara dengan Le Figaro tahun lalu. Setelah kedatangan Cadillac sebagai produsen Amerika, produsen mobil Cina akan menjadi “langkah logis berikutnya”. Pernyataan ini bukan diplomasi kosong. Ini adalah strategi geopolitik.
F1 membutuhkan dana segar, penonton di pasar yang sedang berkembang, dan narasi yang membenarkan relevansinya di era elektrifikasi. BYD menawarkan ketiganya sekaligus. Tapi ada detail yang sedikit diperhatikan: merek belum menjual di Amerika Serikat.
Tarif yang berat dan pembatasan perdagangan menghalangi masuknya BYD ke pasar otomotif terbesar di Barat. Kehadiran di F1, yang disiarkan ke jutaan rumah Amerika setiap minggu balapan, akan menjadi kampanye pemasaran yang tidak bisa dibeli dengan anggaran iklan mana pun. Ini adalah playbook yang sama yang digunakan Toyota pada tahun 2000-an, dan yang disempurnakan Hyundai dalam dekade terakhir.
Perbedaannya adalah BYD sudah memiliki teknologi yang bersaing dengan Porsche dan Mercedes dalam hal performa listrik. Sistem penggerak empat motornya, yang diuji coba pada Yangwang U9, lebih canggih dibanding banyak solusi hibrida yang saat ini digunakan di kategori tertinggi.
Balap ketahanan, termasuk 24 Jam Le Mans dan Kejuaraan Ketahanan Dunia FIA, juga sedang dipertimbangkan. Kategori ini telah menunjukkan keterbukaan lebih besar terhadap pendatang baru, khususnya dengan kategori Hypercar yang terbuka bagi produsen massal. BYD bisa memulai di situ, membuktikan daya tahannya dalam kondisi ekstrem, dan kemudian beralih ke F1 dengan kredensial yang telah terbukti.
Apa yang dipertaruhkan bukan hanya sebuah masuk ke kejuaraan. Ini adalah legitimasi definitif dari rekayasa Cina dalam panteon otomotif global. Setelah puluhan tahun dipandang sebagai peniru, BYD ingin duduk di meja di mana aturan ditulis. Dan di F1, aturan sedang berubah menuju dunia yang sudah dikuasainya.
Pertanyaan yang tersisa bukanlah jika BYD akan memasuki otomotif elit. Tapi Kapan — dan berapa banyak tradisi Eropa yang harus dipaksa untuk berinovasi dalam prosesnya.

